Permintaan Kredit Rendah Bukan Kerena Bunga Tinggi

Perbankan nasional menilai rendahnya permintaan kredit bukan karena tingkat suku bunga pinjaman yang relatif tinggi. BI rate yang saat ini sudah turun menjadi 7 persen, namun hal itu tidak juga menggerakkan langkah perbankan nasional untuk menurunkan suku bunga pinjamannya. “Sekarang ini permintaan kredit relatif rendah, namun hal itu bukan karena suku bunganya yang tinggi. Namun justeru permintaan kredit dari pengusaha sendiri yang masih rendah,” kata Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank umum nasional (Perbanas), Sigit Pramono di Jakarta, Senin (8/5). Sigit mengatakan permintaan kredit yang relatif rendah itu, lebih karena pengusaha masih bersikap “wait and see”, apalagi ditambah dengan adanya hajatan nasional Pemilu Presiden. Ia menepis kalau suku bunga bank dinilai masih tinggi. “Pihak bank sebenarnya sudah menurunkan suku bunga terutama pada bunga pinjaman untuk sektor usaha yang prospektif dan mempunyai resiko rendah,”ujarnya. Sigit mengatakan sekarang ini suku bunga pinjaman bank sekitar 10 sampai 13 persen dan diperkirakan suku bunga itu akan turun lagi sekitar 2 sampai 3 persen. “Bagaimanapun suku bunga akan turun lagi, dan kita tidak bisa berlama-lama menahan dana, karena ada persaingan antar bank,” paparnya. Ia menambahkan bunga kredit perbankan itu berbeda antara sektor usaha dan konsumen dan antara bank satu dengan lainnya. Selain itu masing-masing bank mempunyai besaran variabel yang berbeda-beda untuk menentukan besaran suku bunga pinjaman. Dicontohkan, bank yang mempunyai struktur biaya dana (cost of fund) yang besar, akan kurang luwes dalam menurunkan suku bunga pinjamannya. Menurutnya ada empat variabel yang menentukan besarnya suku bunga pinjaman yakni biaya overhead, marjin keuntungan yang diharapkan dan premi resiko, serta biaya dana. “Biaya dana dan premi resiko yang diluar kendali bank, sehingga sangat menentukan besarnya bunga pinjaman yang ditetapkan bank,” katanya. Sebelumnnya Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi mengatakan penurunan suku bunga kredit sudah lama dinantikan oleh pelaku usaha. Penurunan suku bunga kredit sangat membantu, terutama bagi industri berorietasi ekspor dan dalam menggerakan sektor riil. Hal senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Benny Soetrisno. Menurut Benny pihak bank lebih tertarik menanamkan danannya kepada SBI maupun obligasi, ketimbang menyalurkan kreditnya ke pengusaha/sektor riil.

Sumber: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s