Asa Korban Awan Panas Merapi

Foto dan naskah: Kristianto Purnomo

“Saya nggak bisa kemana-mana, tiba-tiba gelap seperti malam nggak ada listrik, nggak bisa bernafas dan bau belerang, saya jatuh di depan pintu keruntuhan rumah.”

Enam belas tahun tragedi awan panas letusan Gunung Merapi yang menerjang Dusun Turgo, Kelurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY telah berlalu, namun detik-detik paling menakutkan dalam hidup Poniyem, hingga kini masih terekam jelas saat ia menceritakan peristiwa yang menyisakan trauma tersebut.

Dalam sekejap, hidup Poniyem berubah. Ia terpaksa terbaring selama lima bulan di RS Dr Sardjito akibat luka bakar di tubuhnya. Tak hanya luka fisik yang harus dirasakannya. Dalam masa-masa sulit untuk terus bertahan hidup, ia harus menerima kenyataan kehilangan kedua orangtuanya, Jowasito (70) dan Juminten (65), serta anak satu-satunya Sarjuanto (3,6) yang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

“Saya kehilangan tiga orang, bapak, ibu, dan anak. Semua sedang di rumah. Ibu saya kebetulan pulang mencari rumput. Kalau bapak sedang sakit kaki nggak bisa jalan. Anak sedang saya gendong. Saat kejadian kondisi anak saya sudah pucat, badannya mengalami luka bakar, dan menangis terus,” tutur Poniyem.

Selain kehilangan tiga orang anggota keluarga, Tukimi, suami Poniyem pun tak luput menjadi korban. Lebih parah dari Poniyem, Tukimi bahkan harus melewati masa kritis selama sembilan bulan dan tujuh kali operasi akibat luka bakar 90 persen yang dideritanya.

“Selama di rumah sakit saya nggak tahu apa-apa. Saya seperti pingsan lama dan baru sadar sekitar satu bulan sebelum pulang ke rumah,” ujar Tukimi.

Peristiwa nahas, Selasa, 22 November 1994, sekitar pukul 11.00 wib tersebut tak hanya meluluhlantakan bangunan rumah warga. Suasana hingar bingar kebahagiaan pasangan pengantin Marijo dan Wantini yang tengah mengelar resepsi pernikahan harus terhenti berubah menjadi kepanikan, tangis, dan malapetaka. Lebih dari 40 orang tak terkecuali pasangan pengantin meregang nyawa dalam peristiwa tersebut.

Korban awan panas di resepsi pernikahan Marijo-Wantini yang masih hidup hingga sekarang salah satunya adalah Maryoto (51). Ia mengungkapkan, saat peristiwa terjadi, hampir sebagian warga di lokasi hajatan mengetahui. Bahkan luncuran awan panas dari puncak Merapi yang menyerupai sosok “wedhus gembel” sempat menjadi tontonan warga.

Tak satupun warga menyadari bahaya tengah mengintai kehidupan mereka. Tak ada isyarat dari sirine peringatan bahaya Merapi sesaat sebelum kejadian. Warga masih bertahan di rumah saat tiba-tiba gumpalan awan panas meluncur menyapu bukit Turgo dalam sekejap. Barangkali, pengalaman bersahabat dan mengenali karakter Merapi lah yang membuat nyali warga tak ciut kala itu.

Meski luput dari maut, namun Maryoto harus kehilangan jari-jari tangan dan fungsi pendengaran serta cacat akibat luka bakar di tubuh, wajah, kedua tangan dan kakinya. Ia harus menjalani masa-masa sulit mengembalikan kepercayaan diri dan membangun semangat hidup.

Beruntung ada Kasiyem (50) istri Maryoto serta ketiga anaknya yang selamat dari amukan awan panas. Sejak peristiwa nahas yang menimpa suaminya, Kasiyem mengaku banting tulang untuk menghidupi keluarga.

“Pak Maryoto sudah tidak bisa bekerja, apa-apa harus dilayani. Dulu apa saja saya kerjakan, termasuk pernah menjadi pembantu rumah tangga,” ujar Kasiyem.

Pascaletusan Merapi tahun 1994, Poniyem, Tukimi, Maryoto, dan sebagian warga Turgo hijrah menempati rumah sederhana di relokasi Turgo, Dusun Sudimoro, Kelurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY.

Letusan Merapi yang terjadi  Selasa, 26 Oktober 2010 lalu kembali memutar rekaman trauma mereka. Hingga kini, Poniyem bahkan masih takut saat mendengar bunyi  petir. Bunyi yang sama tatkala sakratul maut hampir merenggut nyawanya enam belas tahun silam.

Luka bakar di tubuh, tangan, dan kaki Poniyem, Tukimi, serta Maryoto telah mengering. Ketiga anak Maryoto kini telah dewasa. Tukimi dan Poniyem pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Hidup dalam kekurangan fisik mereka terima sebagai cobaan untuk menghargai kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s